Tapi Kita Bukan Anjing

polls_couple_fighting_4307_743460_poll_xlarge

Setiap orang pasti punya waktu nya masing-masing untuk menjadi berbeda. menjadi berbeda dari sebelumnya. siapa sangka, akhirnya kita menemukan waktu nya bersama. maksudku bersamaan. bukan bersama-sama.

unduhan (2)

bersamaan kita temukan waktu kita untuk berubah.
sebelumnya kita adalah sepasang anak kucing yang amat lucu yang berlarian kesana kemari dan kadang bertengkar satu sama lain.
kadang kita ini menjadi sepasang rumput dan pohon di tengah lapang. kalau aku rumputnya, kamu pasti pohon tempat aku berteduh. dan kamu pohon, aku rumput yang temani kamu di tengah lapangan.
dan itu jauh sebelum kita temukan waktu ini.
sekarang, kucing itu sudah besar. mereka berpisah untuk waktu yang sangat lama. bertahan di jalanan dan perumahan secara terpisah. kejamnya panas jalanan dan lalu-lalang kendaraan kita hadapi sendiri. dibuang, ditendang, dihina, dicaci kita alami bersamaan. bukan bersama-sama. kita adalah sepasang kucing kehilangan rumah. kita kucing yang tersesat.

stock-footage-tree-in-the-summer-on-the-middle-of-a-wheaten-field-time-lapse

oh, rumput pun sekarang banyak dicabuti untuk makan kerbau para petani. dan sudah pasti aku berada di dalam perut kerbau sekarang. dan kamu, kamu pohon yang semakin besar dan tinggi. di jaman sekarang ini, sudah jarang orang yang bersinggah di pohon besar untuk bersantai, mereka lebih memilih bersantai di rumah diatas sofa dan didepan tv masing-masing. dan seperti yang kuduga, kamu sudah ditebang oleh orang-orang yang butuh kayu bakar atau butuh kayu untuk membangun rumah. aku tak tahu pasti. yang ku tahu, sekarang lapangan itu berubah menjadi tandus dan kering. kering sekali.
ah, aku tak tahu pasti kenapa semua ini bisa terjadi. aku bahkan tidak tahu siapa yg lebih dulu meninggalkan rumah, siapa yang lebih dahulu dicabut atau ditebang.
yang aku tahu, seharusnya kita menjadi sepasang kucing yang penurut dan tak pernah kabur dari rumah. seharusnya akar rumputku dan akar pohon mu bisa sedikit lagi saja tumbuh sehingga kita bisa berpegangan erat.

tapi nasi sudah menjadi bubur. hanya doaku padamu, semoga kamu bisa menyebrang jalan dengan amat hati-hati, atau aku berdoa agar engkau tak meneteskan air mata saat tubuh kayumu terbakar. karena tanpa mu, orang itu tak bisa makan makanan yang masak. atau tanpamu, rumahnya tak bisa dibangun.

sama seperti kenyataannya, sekarang kita bukan sepasang sahabat yang imut lagi. mungkin kita lebih mirip orang tua yang sering marah-marah. atau kondektur angkot yang kadang emosi di siang hari. hidup kita memang keras. seperti halnya otak dan hati kita masing-masing. kita sama.

tapi seperti yang kita tahu, kali ini bukan perkara mudah. atau memang kita yang menyulitkan, yang jelas,  sekarang kita bukan lagi sahabat yang berjalan seiringan. bukan lagi dua orang yang seiya sekata. bukan lagi kita yang tanpa bicara bisa mengerti satu sama lain. iya. ini bagian dari perubahan kita. entah itu ke arah yang lebih baik ataupun ke arah yang lebih buruk, kita harus jalani bagian ini masing-masing.

aku bersyukur, sangat bersyukur, pernah punya seorang sahabat terbaik seperti kamu yang telah banyak buat tahun-tahun ku ceria. sekalipun akhirnya memang tidak seceria dulu.

aku tahu, kamu sudah banyak berusaha merubah kembali semuanya menjadi seperti semula, namun gagal..
aku juga, aku juga sudah berusaha semuanya agar kembali seperti semula lagi.
aku bisa terima kalau kamu benci aku sepenuh hati kamu. tak apa. aku terima. tapi kalau kamu baca ini, kamu harus tau, semua alasan dibalik hal-hal yang aku lakukan selama ini.
karena aku tak punya sekantong kata berani untuk bicara ini langsung kepadamu karena aku takut, kamu akan malas dengar seribu alasan ini.
untuk beberapa hal jauh hari yg buat kita begini, aku tak akan lagi mengungkitnya.
tapi untuk kemarin, aku tau kamu sangat benci sekali karena aku tiba-tiba datang kepadamu dengan emosi yang menggebu-gebu dan seenak hatiku marah-marah padamu. ah begini ceritanya..
kamu tau, kamu sudah aku anggap adik, kakak bahkan keluarga sendiri, tak ada satupun hal yang tidak aku ceritakan padamu. aku bahkan menyayangimu sepenuh nya dengan cara-cara ku sendiri.
kamu tau, aku sangat ingat sekali kamu pernah berjanji padaku untuk satu hal. untuk tidak pernah merokok sama sekali. janji itu aku percaya sudah bertahun-tahun lamanya kamu tepati. aku sangat bangga kepadamu karena kamu bisa menepatinya.
kamu juga pasti tahu kenapa aku sangat setuju kamu tidak pernah merokok untuk selama-lamanya. karena aku bercermin pada ayahku. kamu tau dia adalah perokok berat yang hidupnya tak pernah lelah menghisap daun kering itu. kamu tau, sepanjang waktu kita berjarak ini, ayahku sering sekali batuk-batuk, tiap hari aku menangis karena tak bisa menghentikannya. sampai akhirnya, aku tau sekarang kamu merokok. aku menjerit sakit dalam hati. kenapa bisa sampai hati kamu langgar janji kamu. bukan lagi soal janji kita dimasa dulu, aku hanya sedih ah bukan, aku bahkan sakit mendengar kenyataan ini. kamu tau, barang itu sangat membunuh dan membuat kamu sakit nantinya. mungkin bukan sekarang. bukan sekarang. tapi nanti. aku hanya tidak mau lihat anak dan istrimu nanti ikut menangis seperti aku sekarang ini. tapi apa yang aku terima karena semua ini, kamu berkilah bahwa akulah dalang dari kelakuan kamu itu. kamu bilang karena aku tidak pernah ada lagi buatmu disaat-saat tersulit kamu. kamu salahkan aku sendiri. sebenarnya aku sama sekali tidak terima. tapi.. kalau itu mau kamu, kamu bisa salahkan aku sepuasnya. kamu bisa sekarang, ya kamu bisa salahkan aku.

tapi aku tidak akan salahkan kamu karena hal ini. seperti yang kamu tahu, dulu aku pernah mengalami depresi yang teramat sangat hingga aku kehilangan sadar dan histeris semalaman. beberapa waktu yang lalu, hal itu terjadi lagi, kali ini aku overdosis beberapa obat cadangan ku sendiri. aku bahkan tidak begitu ingat apa yang menyebabkan hal itu terjadi. oh, mungkin karena aku lupa jalan ku untuk pulang, aku merasa sebagian hidupku sudah tak ada gunanya lagi, dan aku lupa kalau sehat, jangan minum obat. 5 hari lamanya aku tidak berangkat ke sekolah. dan sesuai tebakan ku, kamu tidak peduli akan hal itu. bahkan sampai detik ini, teman-teman pun belum ada yang tahu. sebenarnya aku ingin marah, karena aku juga kesepian, aku bahkan rindu, tapi keadaan kita begini. kita sudah terlalu amat jauh..

tepatnya kemarin, dari sekian lama kita tak berkomunikasi, akhirnya kita berkomunikasi juga, tapi kali ini kita berdebat hebat didepan umum.
tepatnya, aku sendirian, dan kamu bersama teman-temanmu.
aku tau kamu sangat marah, akupun juga sama.
sekarang kamu benci sepenuh nya padaku, aku pun sama.
aku tau betul dalam pikiran dan perasaanmu, tidak ada lagi niatan untuk perbaiki dan mengulang semua kebaikan yang dulu pernah kita lakukan. aku tau. “baikan? no more kan?”

oh iya, kalau kamu bilang aku anjing, kamu salah. aku manusia, sama seperti kamu. jadi, jangan sekali-kali kamu anggap aku anjing, kalau kamu juga tidak mau orang anggap kamu itu anjing.

akhirnya aku sangat bersyukur kenapa aku sekolah disana, karena seperti yang kita ketahui, sekolah kita punya 2 gerbang, kalau kamu masuk melewati gerbang kiri, biar aku yang lewat gerbang kanan.

saat jam istirahat, untungnya sekolah kita punya 2 tempat spot jual makan. kalau kamu pergi ke kantin bareng teman-temanmu. cukup aku jajan dikoperasi dekat kelasku.

saat kita melakukan kewajiban kita bersama, kamu tahu aku akan shalat dilantai dua.

kalau kamu asik bermain volly di lapangan, jangan khawatir. aku tak akan mengganggumu sedetikpun. karena aku tidak bisa bermain volly. aku mungkin akan berada dikelas atau akan tidur di perpustakaan dimana kamu tidak pernah punya alasan untuk pergi kesana.

mungkin kita sudah sepakat sampai disini. kita memang bukan sepasang kekasih yang sepakat berpisah. tapi kita memang sahabat dekat yang sama-sama sepakat untuk mengakhiri semuanya dan menjadi orang asing untuk diri masing-masing. aneh mungkin. tapi itulah kita..
sepasang kucing yang tersesat, rumput yang dimakan kerbau, dan pohon yang jadi kayu bakar.
tapi kita, bukan Anjing kan ………

sedikit puisi untuk kita berdua yang aku temui dipinggiran halaman google.

FRIENDS FOR NEVER

Friends forever, you promised.
Never to part, you said.
But now we’ve fought,
Words were thrown between us…
And now I’m lying here crying on my bed

Part of me feels,
That it’ll never be the same…
Sure we’ve fought before,
But they were always fixed,
And we both took responsibility to the problem,
But in this one fight,
You said there was only one person to blame…
Me.

I’ve always been there for you.
And I know I always will,
Because I cared about you then,
And I care about you still.

Friends forever,
Was what we said we’d always be,
But look what’s happened today,
We’ve fought and now you are gone…
So what I really need you to see,
Is what you made it feel like,
All the tears I’ve cried,
The hurt I’ve felt all through the night,
You said friends forever,
But really,
It was friends for never

good-bye-my-friend

//

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s